Senin, 18 November 2019

Apakah Wanita Bima itu Setia ? By Alan Malingi

November 18, 2019 0 Comments
Legenda Wadu Ntanda Rahi atau batu yang tetap setia memandang dan menanti kedatangan suaminya beredar di seluruh pelosok Bima. Kisah sendu dan mengharukan ini diyakini ada dimana-mana di belahan Bumi Bima. Di Langgudu ada seongkok batu yang menghadap ke Asa Kota atau mulut teluk Waworada yang diyakini sebagai Wadu Ntanda Rahi. Di Sanggar ada juga batu yang mirip seorang perempuan yang menanti kedatangan suaminya. Di kecamatan Belo, di Sape, di Wera, di Dompu dan bahkan di tengah kota Bima ada sebuah batu besar yang menurut cerita orang-orang tua sebagai Wadu Ntanda Rahi.

Menganalisa sebuah legenda tentu tidak hanya cukup dengan melihat secara kasat mata tentang perubahan wujud manusia, misalnya menjadi batu dan lain-lain. Legenda menyimpan kenangan. Legenda menyimpan pesan-pesan moral dan budi pekerti untuk menjadi pelajaran bagi kita di zaman kekinian. Legenda atau cerita rakyat tetap hidup dan bersemi dalam kehidupan masyarakat penuturnya.

Kembali ke Wadu Ntanda Rahi. Kisah ini menyiratkan makna tentang cinta dan kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Kisah ini menyiratkan pesan bahwa wanita Bima di masa silam adalah sosok yang setia. Dia rela menjadi batu jika suaminya tak pulang setelah pergi berlayar,merantau dan mencari nafkah ke negeri yang jauh. Dia rela menjanda sebagai bukti cintanya kepada sosok suami yang dicintainya. Dia tetap sabar dalam menjaga kehormatan dan harta benda yang ditinggal suaminya.

Dalam konteks masa kini, tentu menjadi hal yang sangat menantang bagi wanita Bima. Apakah wanita Bima masa kini tetap setia sebagaimana cinta dan kesetiaan La Nggini kepada La Nggusu dalam kisah Wadu Ntanda Rahi ini ? Karena cinta dan kesetiaan bagi La Nggini tidak mesti berkata-kata, apalagi dipajang di media sosial. Bagi La Nggini, cinta dan kesetiaan itu diam,dingin, seperti batu.

Dari kisah La Nggini, membawa kesan bahwa wanita Bima di masa lalu adalah wanita setia. Cinta dan kesetiaan dalam Wadu Ntanda Rahi adalah pesan bahwa komitmen untuk menyinta, komitmen untuk setia harus terus dipegang teguh, sebagaimana buih di lautan yang tetap setia menemani sang ombak di kala pasang dan surut.

Salam,

Alan Malingi

Jumat, 26 Juli 2019

Selamat dari Maut vs Selamat dari Tilangan PakPol

Juli 26, 2019 0 Comments



Kejadian pertama Allah menyelamatkan saya dari maut, yaitu ketika saya terselematkan di kolam renang. Saat kecil saya senang sekali diajak untuk berenang dekat dengan rumah saya yang berada di dalam suatu objek rekreasi. Kala itu saya yang masih TK dan begitu senangnya dengan air. Allah selamatkan saya dari maut, kala itu saya hampir saja tenggelam jika tidak segera ditolong. my superhero is my father. Ya bapak saya adalah perantara yang menolong saya terselematkan dari maut. Alhamdulillah ala kullihal saya masih bisa bernapas hingga saat ini. 

***
Kejadian berikutnya sekitar Jawa Tengah tepatnya ketika saya berkunjung ke rumah almh mbah uyut saya yang terletak di daerah Wonogiri Kabupaten Jawa Tengah. Kala itu saya dengan ibu saya sedang mengendarai sepeda motor menuju arah pulang dari arah pasar Batu Retno. Kala itu usia saya cukup belia belum dikatakan remaja setara usia anak SD kelas 2. Saya yang diboncengi oleh Ibu saya sontak kaget dan merinding tidak menyangka jika motor yang kami tumpangi hampir ditabrak oleh Bus lintas Luar Kota karena jalanan yang kami tempuh adalah jalan raya besar yang sering dilalui oleh Bus ataupun truk atau sejenis lainnya yang mengangkut muatan beban berat. Kejadian saat itu masih teringat dlam memori saya, bagaimana tidak maut hampir menghampiri saya dengan ibu saya jika motor kami terus melaju dan tidak memberikan jalan bagi Bus dengan berlawanan arah yang sengaja ingin melambung melewati mobil yang ada di depan bus tersebut. Alhamdulillah ala kullihal Allah selamatkan saya dari maut. Kala itu saya tidak bisa bayangkan jika ibu saya terus melaju dan tidak mengalah dengan bus yang tidak ada sabarnya melaju di jalur yang bukan seharusnya dilalui karena sudah ada pembatas jalan yang sudah ditentukan. 

***
Kejadian yang selanjutnya adalah ketika saya sedang duduk di kelas bangku SD kelas 6. Kala itu kejadian sama juga dialami saya kembali ketika berada di lokasi kolam renang daerah sentul selatan. Alhamdulillah ala kullihal saya terselamatkan dari maut. Kala itu saya berenang dalam koridor aman yaitu batas air yang masih dapat dijangkau untuk saya renang. Namun kala itu seperti ada mengarahkan untuk ke arah yang batas ketinggian sekitar 1-2 meter. Siapa sangka kaki saya tidak dapat menjangkau ke dasar kolam. Kala itu jika tidak segera ditolong mungkin saat ini saya tidak dapat bernapas dan menghirup udara seperti orang-orang lainnya. Karena dengan sigapnya Bapak saya mengambil sikap segera menyelamatkan saya. Alhamdulillah ala kullihal saya selamat dan dari tragedi tersebut.

“ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” (Q.S Ali Imran : 14
***
Selamat dari tilangan Pak Pol adalah sebuah kebahagiaan. Gimana tidak, melihat dari kejauhan kerumunan Kelompok yang memakai Seragam berwarna hijau terkadang membuat degup jantung gemetaran. Lah ko bisa (?). Hal ini tentunya sering dialami pengemudi yang mungkin saat itu sedang dalam tidak membawa surat kendaraan berkendara secara lengkap. Contohnya saya. Kala itu saya ingin bersilahturahmi ke rumah teman saya yang berada di Depok. Tidak disangka jalur yang saya lewati menuju arah Depok sedikti tersendat dikarenakan ada sebuah operasi razia. Kala itu saya diberhentikan oleh Pak Polisi. Setelah diminta untuk menunjukkan kelengkapan surat berkendara, ternyata STNK yang terbawa adalah STNK fotocopy karena yang aslinya lupa diletakkan dimana. Modal nekad dan berani saya membawa motor tersebut. Tapi sebenarnya jantung berdebar, hehehe. Alhamdulilllah ala kulihal tidak lama hujan turun derasnya. razia pun terhentikan selamat dari tilang. Alhamdulillah saya selamat dari tilang.

***
Belum lama ini kurang lebih tepatnya satu bulan yang lalu saya dan teman saya terhindar dari tilangan polisi. Iya tepatnya di jalur yang seharusnya sepeda motor tidak lewati. Saat itu saya dan teman saya tidak tahu bahwa kendaraan beroda dua dilarang melintas dalam kawasan tersebu, tepatnya daerah semanggi Jakarta Selatan (Kalau tidak salah dan lupa ya, hehe). Kala itu antara mau mundur atau tetap maju. Mundur kena, maju pun kena, Berbekal bismillah dan meminta maaf kepada pak pol atas ketidaktahuan saya dan teman saya akhirnya saya dan teman saya terhindar dari tilangan polisi.

dari kedua versi tentunya bisa selamat dari maut dan tilangan pakpol adalah rasa syukur yang tak terkira. Akan tetapi terselamatkan dari maut adalah sebuah pemberitahuan kepada saya bahwa menyiapkan bekal kematian itu sangatlah penting, Karena dunia adalah tempat singgah sementara dan akhirat adalah tempat singgah selamanya. Jadi secara garis besar bagaimanapun ada baiknya kita sebagai hamba menyiapkan bekal kematian, karena tiada yang tahu kapan seseorang akan berpulang kecuali Allah SWT. 

Jakarta, 26 Juli 2019












Selasa, 09 Juli 2019

Nyaman, Setia dan Bahagia yang Tak Dapat dibeli

Juli 09, 2019 5 Comments



Kenyamanan dan Kesetiaan adalah hal yang sulit didapat. Kenyamanan diibaratkan seperti sepasang sendal atau sepatu. Jika satu pasangnya tidak sesuai maka ketika akan dikenakan untuk berjalan si penggunanya akan merasa tidak enak atau tidak nyaman. Nyaman dimaknai dengan cocok, begitu pula dengan kesetiaan. Kesetiaan adalah sesuatu yang bernilai. Kesetiaan itu tidak dapat dibeli dengan apapun. Tidak bisa pula digadaikan. Kesetiaan itu bernilai dan hanya ada atau melekat pada orang yang berkelas. Dan tidak dapat diberikan kepada sembarang orang atau yang tidak pantas menerimanya. Karena kesetiaan itu elegan. Berbicara terkait mengenai bahagia, tidak selalu bahagia dikatakatan baru bisa bahagia jika sudah memiliki harta yang banyak. Tidak pula serta merta tolak ukur bahagia dimaknai dengan dengan sesuatu yang mahal atau mewah. Bahagia itu tidak dapat dibeli dengan apapun. Bahagia itu sederhana cukup pada hati yang bersyukur. 

Senin, 13 Mei 2019

Tolak Ukur Keberhasilan

Mei 13, 2019 0 Comments

Berbicara terkait mengenai "keberhasilan" masing-masing individu memiliki pandangan satu sama lain yang tak sama. Ada yang berpendapat bahwa dikatakan berhasil itu ketika telah memperoleh apa yang selama ini diimpi-impikan. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa dikatakan berhasil jika telah memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi, ada pula yang berpendapat bahwa berhasil itu ketika telah mencapai sesuatu dalam puncak karir. Ada pula yang berpendapat bahwa berhasil ketika telah menejadi seorang ASN, Menteri, Presiden dan lainnya. Tentunya setiap individu memiliki pandangan yang berbeda-beda dan itu adalah hak setiap individu dalam memberikan pendapat. Begitu pula dengan saya memiliki pendapat yang tak sama. Menurut saya tolak ukur keberhasilan adalah ketika kita dapat memberikan kebermanfaatan kita untuk orang lain dan sekitarnya sebagaimana kita memaknai sebuah kehidupan sesungguhnya. Seperti yang kita ketahui bahwa roda kehidupan akan selalu terus berputar. Bila hari ini kita berada di posisi atas, maka tidak ada yang dapat menjamin sebuah kehidupan. Bisa Pula ketika hari ini posisi kita berada dibawah, tapi tidak ada yang tahu untuk kedepannya. Karena itu Pemegang Kunci Kehidupan ada pada Sang Kuasa. Sebagaimana kita ketahui keinginan manusia tidak ada batasnya. Ketika telah diberikan sebuah kenikmatan, ada yang dapat mensyukurinya ada pula yang tidak dapat mensyukurinya karena merasakan selalu kurang. Tetapi tanpa kita sadari itu semua adalah sebuah takdir. Sebagai insan yang memiliki iman tidak sepatutnya menghakimi bahwa masa depan mereka akan seperti ini dan itu, padahal manusia tidak dapat menjamin akan masa depan seseorang. Berpikirlah secara bijak agar pikiran tidak terkungkung dalam pemikiran yang tak terbuka. Sekian sedikit coretan catatan pendek ini.