Jumat, 26 Juli 2019

Selamat dari Maut vs Selamat dari Tilangan PakPol

Juli 26, 2019 0 Comments



Kejadian pertama Allah menyelamatkan saya dari maut, yaitu ketika saya terselematkan di kolam renang. Saat kecil saya senang sekali diajak untuk berenang dekat dengan rumah saya yang berada di dalam suatu objek rekreasi. Kala itu saya yang masih TK dan begitu senangnya dengan air. Allah selamatkan saya dari maut, kala itu saya hampir saja tenggelam jika tidak segera ditolong. my superhero is my father. Ya bapak saya adalah perantara yang menolong saya terselematkan dari maut. Alhamdulillah ala kullihal saya masih bisa bernapas hingga saat ini. 

***
Kejadian berikutnya sekitar Jawa Tengah tepatnya ketika saya berkunjung ke rumah almh mbah uyut saya yang terletak di daerah Wonogiri Kabupaten Jawa Tengah. Kala itu saya dengan ibu saya sedang mengendarai sepeda motor menuju arah pulang dari arah pasar Batu Retno. Kala itu usia saya cukup belia belum dikatakan remaja setara usia anak SD kelas 2. Saya yang diboncengi oleh Ibu saya sontak kaget dan merinding tidak menyangka jika motor yang kami tumpangi hampir ditabrak oleh Bus lintas Luar Kota karena jalanan yang kami tempuh adalah jalan raya besar yang sering dilalui oleh Bus ataupun truk atau sejenis lainnya yang mengangkut muatan beban berat. Kejadian saat itu masih teringat dlam memori saya, bagaimana tidak maut hampir menghampiri saya dengan ibu saya jika motor kami terus melaju dan tidak memberikan jalan bagi Bus dengan berlawanan arah yang sengaja ingin melambung melewati mobil yang ada di depan bus tersebut. Alhamdulillah ala kullihal Allah selamatkan saya dari maut. Kala itu saya tidak bisa bayangkan jika ibu saya terus melaju dan tidak mengalah dengan bus yang tidak ada sabarnya melaju di jalur yang bukan seharusnya dilalui karena sudah ada pembatas jalan yang sudah ditentukan. 

***
Kejadian yang selanjutnya adalah ketika saya sedang duduk di kelas bangku SD kelas 6. Kala itu kejadian sama juga dialami saya kembali ketika berada di lokasi kolam renang daerah sentul selatan. Alhamdulillah ala kullihal saya terselamatkan dari maut. Kala itu saya berenang dalam koridor aman yaitu batas air yang masih dapat dijangkau untuk saya renang. Namun kala itu seperti ada mengarahkan untuk ke arah yang batas ketinggian sekitar 1-2 meter. Siapa sangka kaki saya tidak dapat menjangkau ke dasar kolam. Kala itu jika tidak segera ditolong mungkin saat ini saya tidak dapat bernapas dan menghirup udara seperti orang-orang lainnya. Karena dengan sigapnya Bapak saya mengambil sikap segera menyelamatkan saya. Alhamdulillah ala kullihal saya selamat dan dari tragedi tersebut.

“ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” (Q.S Ali Imran : 14
***
Selamat dari tilangan Pak Pol adalah sebuah kebahagiaan. Gimana tidak, melihat dari kejauhan kerumunan Kelompok yang memakai Seragam berwarna hijau terkadang membuat degup jantung gemetaran. Lah ko bisa (?). Hal ini tentunya sering dialami pengemudi yang mungkin saat itu sedang dalam tidak membawa surat kendaraan berkendara secara lengkap. Contohnya saya. Kala itu saya ingin bersilahturahmi ke rumah teman saya yang berada di Depok. Tidak disangka jalur yang saya lewati menuju arah Depok sedikti tersendat dikarenakan ada sebuah operasi razia. Kala itu saya diberhentikan oleh Pak Polisi. Setelah diminta untuk menunjukkan kelengkapan surat berkendara, ternyata STNK yang terbawa adalah STNK fotocopy karena yang aslinya lupa diletakkan dimana. Modal nekad dan berani saya membawa motor tersebut. Tapi sebenarnya jantung berdebar, hehehe. Alhamdulilllah ala kulihal tidak lama hujan turun derasnya. razia pun terhentikan selamat dari tilang. Alhamdulillah saya selamat dari tilang.

***
Belum lama ini kurang lebih tepatnya satu bulan yang lalu saya dan teman saya terhindar dari tilangan polisi. Iya tepatnya di jalur yang seharusnya sepeda motor tidak lewati. Saat itu saya dan teman saya tidak tahu bahwa kendaraan beroda dua dilarang melintas dalam kawasan tersebu, tepatnya daerah semanggi Jakarta Selatan (Kalau tidak salah dan lupa ya, hehe). Kala itu antara mau mundur atau tetap maju. Mundur kena, maju pun kena, Berbekal bismillah dan meminta maaf kepada pak pol atas ketidaktahuan saya dan teman saya akhirnya saya dan teman saya terhindar dari tilangan polisi.

dari kedua versi tentunya bisa selamat dari maut dan tilangan pakpol adalah rasa syukur yang tak terkira. Akan tetapi terselamatkan dari maut adalah sebuah pemberitahuan kepada saya bahwa menyiapkan bekal kematian itu sangatlah penting, Karena dunia adalah tempat singgah sementara dan akhirat adalah tempat singgah selamanya. Jadi secara garis besar bagaimanapun ada baiknya kita sebagai hamba menyiapkan bekal kematian, karena tiada yang tahu kapan seseorang akan berpulang kecuali Allah SWT. 

Jakarta, 26 Juli 2019












Selasa, 09 Juli 2019

Nyaman, Setia dan Bahagia yang Tak Dapat dibeli

Juli 09, 2019 5 Comments



Kenyamanan dan Kesetiaan adalah hal yang sulit didapat. Kenyamanan diibaratkan seperti sepasang sendal atau sepatu. Jika satu pasangnya tidak sesuai maka ketika akan dikenakan untuk berjalan si penggunanya akan merasa tidak enak atau tidak nyaman. Nyaman dimaknai dengan cocok, begitu pula dengan kesetiaan. Kesetiaan adalah sesuatu yang bernilai. Kesetiaan itu tidak dapat dibeli dengan apapun. Tidak bisa pula digadaikan. Kesetiaan itu bernilai dan hanya ada atau melekat pada orang yang berkelas. Dan tidak dapat diberikan kepada sembarang orang atau yang tidak pantas menerimanya. Karena kesetiaan itu elegan. Berbicara terkait mengenai bahagia, tidak selalu bahagia dikatakatan baru bisa bahagia jika sudah memiliki harta yang banyak. Tidak pula serta merta tolak ukur bahagia dimaknai dengan dengan sesuatu yang mahal atau mewah. Bahagia itu tidak dapat dibeli dengan apapun. Bahagia itu sederhana cukup pada hati yang bersyukur.