Senin, 08 Juni 2015

Aku Salah, Aku Menyalahkan by@diles_delta


aku salah, aku
menyalahkan. -catatan untuk lelaki dan wanita- .
"Yaaa ini kan salah dia, siapa suruh mau aja
diPHPin" disudut percakapan lelaki itu berkata
dengan pasti.
"Kenapa sih, dia PHP banget, ya kalo emang
menutup hati kenapa gak menutup diri dari
awal!!" sedang disudut lain, wanita ini meratapi.
Dan diantara orang-orang yang menyalahkan,
selalu ada orang yang kebingungan berada dalam
posisi tengah, tak berpihak, tak berat sebelah.
Pernah nonton film i'm not stupid too 2? Pada
bagian ibu dan ayah yang saling menyalahkan,
siapa yang paling disulitkan? Jelas, anak-anaklah,
atau mereka-mereka yang tak ada kaitan.
Begitulah, saya sering berada dalam posisi ini,
posisi jadi orang tengah meski bukan penengah.
Bukan posisi si wanita itu loh, bukan banget.
Karena berharap pada ia yang bukan mahrom
bagi saya adalah bunuh diri, maka sebisa
mungkin tak berharap atau menyandarkan
harapan. Haha :)
Lelaki menyalahkan wanita, sedang wanita
menyalahkan lelaki? Eh hei, kenapa masing-
masing tak evaluasi saja? Mencoba sadar (meski
sulit) bahwa ini memang salah diri kita sendiri.
Jika tahu bahwa berharap pada manusia akan
berujung sakit, mengapa masih menyandarkan
harapan? Ah tanya yang tak pernah ada jawab.
Sadarkah bahwa, antara lelaki dan wanita,
mereka sama-sama membuka celah itu, celah
untuk saling merasakan kecewa satu sama lain.
Allah sudah menjadikan rasa itu sebagai fitrah,
fitrah yang bukan dibiarkan begitu saja, lepas
tanpa arah, tapi semestinya fitrah yang sesuai
perintah dan menuai berkah. Bisa jadi apa yang
dikatakan oleh lelaki benar, bahwa wanita lah
yang terlalu banyak berharap. Ya kemungkinan ini
boleh saja kita evaluasi. Mengevaluasi jejak-jejak
perjalanan sebelum harap tercipta dalam tiap
perjumpaan. Bahkan bisa saja, mengevaluasi diri
sendiri mengapa ada seseorang yang begitu
memikat harapan kita? Mungkinkah selama ini,
kita kurang dekat pada Allah, yang semestinya
segala harap tersandarkan? Mungkinkah ketika
dari awal kita tak bersikap tegas untuk nyatakan
bahwa hati kita bukan tanah lapang tempat lelaki
bermain dan menitipkan rasa? Mungkinkah
karena kita tak bersikap untuk menyudahi segala
gelisah ketika belum meluas?
Bukan, ini bukan berarti saya mengisyaratkan
bahwa segala salah tertumpah pada wanita,
tidak. Saya wanita, tegakah saya menyandarkan
salah pada sesama wanita. Anggap saja ini
sebagai sebuah ajakan, ajakan dalam
mengevaluasi dan mencari sebab masalah tanpa
harus menyalahkan.
Kini, mari kita mengevaluasi dengan arah
sebaliknya. Bisa jadi yang dikatakan wanita
benar, mengapa tak bisa bersikap sewajarnya,
wajar yang tidak menspesialkan semua wanita,
dan tidak menganggap rendah tiap wanita.
Terhijabi dan menjaga. Menutup hati dengan
segala pertanda yang jelas. Bukankah kita sama-
sama tahu bahwa lelaki pemberani adalah ia
yang berani mengatakan "saya terima nikahnya"
maka ketika belum ada keberanian, jangan
biarkan hati terbuka, terlebih jangan biarkan
seorang wanita merasa kau adalah miliknya.
Hentikan sudah sandi-sandi rayuan, senyum-
senyum (sok) rupawan, dan kata-kata penuh
pengharapan.
Mari kita mengingat sejenak tentang dua sisi
makhluk ini dengan hati yang lapang. Teruntuk
wanita, terlupakah bahwa wanita merupakan
salah satu godaan terberat bagi lelaki? Maka
ketika Allah sudah mengisyaratkannya, jangan
lagi derai manja, tatap rayu, dan perhatian-
perhatian yang membuat lelaki tergoda.
Bukankah itu awal dari timbulnya pengharapan
pada ia? Jika nyatanya hal itu tidak pernah
wanita lakukan namun nyatanya tetap ada lelaki
yang terlihat memberi harap, milikilah keberanian
untuk berkata "jangan bermain dengan hati"
kemudian beranilah untuk meninggalkan. Dan
untuk lelaki, terlupakah bahwa Allah
memerintahkan untuk menjaga pandang? Ya
meski perintah ini juga tertuju untuk wanita.
Namun sebab perintahNya, lelaki dan wanita
sama-sama terselamatkan jika kau
melaksanakan. Menyelamatkan kau sebagai lelaki
dari wanita yang mungkin akan membuatmu
jatuh hati, dan menyelamatkan ia sebagai wanita
agar tak melulu berharap pada sosokmu yang tak
mampu mengabulkan harapan. Benarkan? Jika
sulit menjalankan perintah ini, maka milikilah
keluasan ilmu dan keberanian untuk mengambil
alih penjagaan yang dilakukan oleh ayah dari
wanita dengan akad menjadi langkah awal.
Hanya hal ini yang mampu menjaga antara laki-
laki dan wanita. Kau percaya kan?
Maka kini, kita sudahi saja cara lama kita yang
selalu menyalahkan, beranilah masing-masing
berkata "baik, saya yang salah" dan tentukan
sikap. Menyudahi atau bahkan melupakan jika
peluang untuk menjadi halal tak kalian temukan.
Jika sulit kau lakukan, cukup tempatkan dirimu
menjadi dia, agar kau tahu bahwa rasa ini sama
tidak enaknya, bagimu, atau bagi ia. Maka
katakan saja "saya salah, maafkan..."
Teruntuk wanita, percayalah, lelaki yang baik
adalah ia yang menjaga hatimu agar tak terkotori
dengan namanya.
Teruntuk lelaki, percayalah, wanita yang baik
adalah ia yang tak perkenankan dirimu dengan
mudahnya masuk ke dalam hatinya.
Mari saling menjaga dalam keterjagaan diri kita.
Untuk ia, terlebih untuk kita.

by: @diles_delta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar